Langit di atas Benua Beihan diselimuti awan putih tebal. Di bawahnya, gunung-gunung tinggi berdiri kokoh, puncaknya tertutup salju abadi yang bersinar keperakan memantulkan cahaya matahari. Pegunungan itu membentang sejauh mata memandang, dan di antara puncak-puncaknya, angin dingin menderu membawa salju beterbangan.

Di langit yang membeku itu, dua sosok melayang tenang. Jubah mereka berkibar diterpa angin dingin yang menggigit, namun keduanya tidak terpengaruh. Lynx dan Leena telah menempuh perjalanan panjang sejak meninggalkan desa Surya, melintasi benua asing yang belum pernah mereka jejaki sebelumnya.

"Disini... benar-benar berbeda dari Tianzhou," gumam Leena sambil menarik napas dalam, matanya mengamati jurang-jurang es dan pegunungan yang menjulang tajam. "Sejauh mata memandang tempat ini penuh dengan salju."

"Seharusnya kita sudah mendekati wilayah Kerajaan Fenglong," jawab Lynx tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada daerah di bawah. "Setelah memasuki wilayah kerajaan tersebut, kita seharusnya bertemu dengan desa yang berada di wilayah Sekte Pedang Es."

Karena tempat yang mereka datangi belum pernah di kunjungi, portal teleportasi Lynx tidak bisa membantu mempercepat perjalanan mereka, sehingga Lynx dan Leena memutuskan untuk terbang ke arah benua Beihan.  Sepanjang perjalanan, mereka terpaksa bertanya arah kepada para penduduk yang mereka temui dapat menemukan lokasi yang dituju bahkan mereka melewati lautan luas. Namun setelah beberapa jam melintasi hutan, lembah dan puncak salju, akhirnya mereka tiba di sebuah wilayah yang dikenal sebagai Desa Hanling.

Desa itu berdiri di tepi jurang besar. Dinding es menjulang di sisi utara, dan suara angin yang melewati celah jurang terdengar seperti lolongan serigala. Meski berada di tempat terpencil, desa ini cukup ramai. Tampak para pengrajin senjata lokal menempanya di tungku-tungku yang dibangun dari batu hitam tahan suhu ekstrem.

Saat mendekati desa, Leena melirik pakaian mereka yang masih mengenakan ciri khas dari Tianzhou. Ia memegang lengan Lynx dan berbisik, "Kita butuh penyamaran. Jika mereka tahu kita dari Tianzhou, kita bisa berada dalam masalah."

Lynx mengangguk singkat lalu menghilang dalam satu gerakan cepat. Dalam waktu singkat, ia kembali dengan membawa dua set pakaian hangat berwarna abu dan biru gelap yang umum digunakan penduduk lokal. Ia meletakkan kantong kecil berisi beberapa koin perak di bawah rak pakaian toko, lalu memberikan pakaian itu kepada Leena.

"Pakailah. Aku mengambilnya di toko sekitar sini dan sudah meninggalkan uang untuk membayarnya," ucapnya datar.

Leena tersenyum tipis. "Untuk seseorang yang sangat kuat, kamu cukup baik hati juga."

"Didepanmu tentu aku harus selalu terlihat baik, bukankah begitu.... calon istriku," balas Lynx dengan nada bercanda, sorot matanya terlihat hangat saat menatap Leena.

Wajah Leena tersipu malu mendengar perkataan Lynx. Tanpa merespon, dia mengambil satu set pakaian dari tangan Lynx dan bergerak cepat mengganti pakaiannya.

Setelah berganti pakaian, Leena merasa tubuhnya lebih nyaman dengan kehangatan pakaian tersebut. Meskipun dengan kultivasinya dia bisa mengabaikan rasa dingin yang menyerang, namun menggunakan pakaian hangat dan membiarkan udara dingin menyentuh tubuhnya memberikan sensasi tersendiri. 

Lynx yang melihat Leena menggunakan baju menyerupai jacket tebal tersenyum. Kekasihnya terlihat sangat imut sehingga tanpa disadari dia menatap wajah Leena sangat lama bagaikan terhipnotis.

Leena yang menyadarinya segera mengambil bongkahan salju dan melemparkan ke wajah Lynx,"Berhenti menggodaku. Kita sedang di buru waktu."

"Benar, kita harus segera menemukan cara memasuki sekte tersebut dan meminta bantuan mereka." kata Lynx sambil memandang ke arah desa Hanling.

"Kita bica mencoba mencari informasi di tempat ini terlebih dahulu. Kita tidak bisa tiba-tiba menerobos sekte tersebut dan menyinggung mereka." Kata Leena mengingatkan.

Lynx menyetujui dan mereka berdua segera memasuki desa Hanling sambil bergandengan tangan.

Melihat Lynx dan Leena yang belum pernah mereka lihat, para penduduk bersikap acuh tak acuh. Mereka sudah terbiasa menemui pendatang baru yang berniat menguji keberuntungan untuk dapat menjadi murid sekte Pedang Es sehingga kedatangan mereka tidak terlalu mencolok. Kekuatan Leena yang mereka rasakan berada di master foundation karena di sembunyikan membuat para penduduk tidak ada yang mengistimewakan mereka, terutama setelah merasakan kekuatan Lynx yang berada di ranah forging qi tingkat dua.

Mereka menyusuri jalanan batu yang tertutup lapisan es tipis. Penduduk desa tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak jauh dari sebuah gang, suara gaduh terdengar.

"Hei, berhentilah!" teriak seorang gadis.

Lynx dan Leena berbalik. Di ujung jalan, beberapa pemuda berdiri mengepung seorang wanita muda. Wajah mereka tampak arogan, tawa mereka kasar dan mengganggu.

Salah satu pemuda yang tubuhnya besar dan mengenakan jubah berbulu berteriak sambil menarik lengan gadis itu. "Kau pikir bisa menolakku semudah itu, huh? Aku calon murid Sekte Pedang Es! Suatu saat aku akan jadi pendekar legendaris. Dan kau akan menyesal menolakku!"

Gadis itu menepis tangannya, namun balasan yang ia terima adalah dorongan keras hingga ia terjatuh ke jalan berbatu. Darah mengalir dari siku dan lututnya.

"Beraninya kau selalu menolakku. Seharusnya kamu banggu karena aku menyukaimu." teriak pemuda itu sambil mengangkat tangan.

Namun sebelum tangannya jatuh, sebuah tamparan cepat menghantam wajahnya.

PLAK!

"Kalau kau ingin menjadi pendekar, mulailah dengan bersikap baik sebagai manusia dulu," kata Leena dingin, wajahnya tanpa ekspresi.

Pemuda itu terhuyung, matanya membelalak tidak percaya. "Kau... siapa kau, perempuan sialan!"

Ia melompat ke arah Leena dengan niat menyerang. Namun dalam sekejap, Leena menghindar, menarik leher jubahnya, dan menjatuhkannya ke tanah dengan satu gerakan sederhana.

"Sudah kukatakan, bersikap baiklah. Kau tidak pantas menyentuh siapa pun," ujar Leena dengan nada tegas, lalu mendorongnya mundur hingga terjungkal.

Pemuda itu bangkit dengan muka merah padam. Dari beberapa gerakan yang dilakukan Leena, dia bisa merasakan kemampuan Leena jauh di atasnya sehingga dia tidak berani bertindak sembarangan. Dia segera melarikan diri sambil mengumpat. Teman-temannya ikut kabur, meninggalkan gadis itu tergeletak di tanah.

Leena berjongkok dan membantu gadis itu berdiri.

"Terimakasih Nona atas bantuannya." katanya sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya.

"Aku bersama pasanganku pendatang baru disini. Bisakah kamu membantu memberi kami sedikit informasi?" tanya Leena sambil menatap lembut ke arahnya.

Gadis itu masih tertegun dan memperhatikan penampilan Lynx dan Leena,sebelum akhirnya mengangguk. 

"Ayo, aku akan membawamu ke rumah makan terdekat dan kita akan mengobati lukamu." Ajak Leena sambil menarik lembut lengan wanita tersebut.

Mereka menuju sebuah rumah makan kecil yang terletak di pinggir desa. Suasana di dalam hangat dan ramai. Setelah duduk di sudut ruangan, Leena mulai membersihkan luka gadis itu dengan pil penyembuh yang dibawanya.

"Terima kasih," ucap gadis itu pelan. "Namaku Meiyu. Siapa kalian? Sepertinya aku baru kali ini melihat kalian."

Leena tersenyum dan memperkenalkan diri."Aku Ling Mei dan dia bernama Xiao Ling. Kami dari desa Xuelu." Kata Leena berbohong. Dia mengetahui nama desa tersebut saat diperjalanan dan sempat singgah untuk mendapatkan informasi.

"Meiyu, siapa pemuda itu?" tanya Leena sambil meniup luka yang sudah diolesi ramuan.

"Namanya Zhou Fan. Dia anak saudagar kaya yang menyuplai besi langka untuk beberapa keluarga bangsawan. Ayahnya menyuap banyak tetua desa agar dia bisa diusulkan menjadi murid Sekte Pedang Es... Tapi sebenarnya dia sombong dan kasar. Aku menolaknya, jadi dia marah."

Lynx yang duduk di sebelah Leena mengangguk perlahan. "Kau menyebut dia murid Sekte Pedang Es. Apakah sekte ini sedang merekrut murid?"

Meiyu mengangguk. "Ya. Setiap tahun mereka akan turun dan singgah ke berbagai tempat untuk mencari murid berbakat menjadi murid mereka. Sebagai salah satu Sekte terbesar di kerajaan Fenglong, mereka memliki banyak sumber daya sehingga tidak sedikit orang berlomba untuk dapat menjadi murid mereka. Tapi tidak sembarang orang bisa masuk. Bahkan yang ingin mendaftar pun harus melalui uji kelayakan ketat."

"Kau tahu bagaimana bisa berkunjung ke sekte Pedang Es?" tanya Lynx tenang.

Meiyu menatap Lynx dan Leena dengan penuh rasa ingin tahu. Ada keteguhan di wajah pria itu dan kehangatan dalam perlindungan wanita di sebelahnya.

"Tempat itu sangat tertutup bagi pengunjung. Hanya murid mereka saja yang bisa memasuki Sekte. Jika mau, aku ada satu cara," ucap Meiyu dengan sedikit ragu. Meski Lynx dan Leena orang asing, namun dia merasa Lynx dan Leena dapat dipercaya, terutama karena mereka sudah menolongnya. 

"Kalian beruntung, hari ini sebenarnya sedang diadakan seleksi terbuka di Kuil Lapis Salju, di kaki gunung. Siapa pun bisa datang dan menunjukkan kemampuannya di sana. Jika beruntung... kalian bisa mendapat perhatian dari tetua sekte."

Lynx dan Leena saling berpandangan.

"Kalau begitu," gumam Lynx dengan suara pelan namun pasti, "Kita harus pergi ke kuil itu."

Leena tersenyum kecil. "Meiyu, bisakah kamu menemani kami ke tempat itu? Kami tidak mengetahui tempatnya." 

Meiyu menganggukkan kepalanya,"Aku memang berniat ketempat tersebut namun terhalang oleh pemuda tadi. Kita bisa kesana setelah ini."

Lynx dan Leena bertatapan, dalam hati mereka bertekad harus berupaya sebaik mungkin menemukan orang yang bisa membantu mereka menyelamatkan penduduk suku Surya.

